ASI..
Hingga
menginjak usia kehamilanku yang ke 8 bulan, aku tidak mengetahui dan mencari
tau betapa sangat berartinya ASI untuk bayiku. Yang aku tau, aku harus memberi
anakku ASI dan jika sudah mulai kerja dan kuliah, aku akan tetap memberi ASI
namun tetap menyediakan susu formula sebagai jaga-jaga.
Dan
saat hamil, aku sudah menuju rak susu formula di sebuah supermarket, melihat
kandungan gizinya, dan manggut-manggut. Sebelum melahirkanpun, aku berkali-kali
bilang ke suamiku, untuk stock susu formula sebelum aku masuk kerja.
Alih-alih
membelikan susu formula sebagai persedian, suamiku malah lebih tertarik untuk
membelikanku breastpump elektrik, botol kaca asi dan hal lainnya guna
mendukungku ASI exclusive.
Saat
melahirkan Ken pun tiba, dikarenakan aku melahirkan caesar. butuh waktu 4 hari
untuk tetap tinggal di rumah sakit. Disaat itu pula, dengan dukungan penuh
dokter, perawat, konselor laktasi rumah sakit bunda margonda.. tidak
henti-hentinya memberi pemahaman betapa pentingnya ASI bagi anakku dan aku,
tidak bosan-bosannya setiap saat aku memanggil untuk meminta bantuan bagaimana
pelekatan yang benar, mengajarkan beberapa cara posisi yang nyaman menyusui
untukku dan bayiku. Aku bersyukur..
Dan
lebih bersyukur, ASI ku melimpah..
Aku senang menyusui langsung. dan hingga beberapa hari pulang dari rumah
sakit, dengan intensitas minum Ken yang sering, aku belum menggunakan
breastpump yang dibeli suamiku. Buat apa? Libur masih panjang, dan ken selalu
ada didekapku.
Semua
berubah, saat usia Ken berusia 1 minggu. Ken masuk rumah sakit. Sakit kuning.. kadar bilirubin
mencapai 17.7, sangatttt tinggi. Ken perlu disinar, dan agar cepat sembuh, Ken
harus tetap diberi ASI namun tidak boleh terlalu sering diambil untuk disusui, efek
penyinaranpun menjadikan konsumsi ASInya 2x lipat lebih banyak.
“ibu harus stock asi
ya, dikirim kesini setiap 2 jam”
Selain
panik, and dunno what to do.. aku bengong. Perasaan sedih itu merayap saat aku
tau anakku akan di rawat, yang lebih lagi aku belum pernah memompa. Sedangkan Ken
harus sudah masuk ruang perina, dan aku setidaknya harus menyediakan stock
untuk konsumsi selama dirawat, dan tentu saja stock pertama yang akan digunakan sekarang hingga 2 jam kedepan. Aku meminta
mamaku, untuk kembali kerumah (karena suamiku sedang kerja dan tidak tau kalo
Ken harus masuk rumah sakit saat itu) menyiapkan segala macam keperluan,
breastpump, kantong asi dan segalanya. Sedangkan aku akan standby di rumah
sakit, dan sambil menangis terisak begitu sedihnya anakku dirawat, aku
menyendiri di ruang menyusui rumah sakit. Memerah dengan tangan, dan untungnya
aku membawa botol susu dari rumah (yang entah untuk apa).
Setetes
demi setetes sangat berarti untuk anakku, mulai dari 20 ml sekali perah, 30 ml,
40 ml. Setelah mamku datang, semua aku taruh di kantong plastik khusus ASI ukuran 180ml, untuk stock Ken hari itu. Kebayang
betapa keliatan sedikitnya?
Dengan
sugesti setiap menjenguk Ken saat jadwalnya, aku dan suamiku selalu membisikinya, bahwa
kami kesepian tanpanya, cepat sehat, agar kita cepat pulang dan tidur bertiga
bersama kembali. Tidak perlu waktu lama, 1x 24 jam disinar (hanya menginap semalam), kadar bilirubin Ken
turung hingga 10,2 dan akhirnya diperbolehkan pulang.
Sejak
saat itu hingga sebulan sebelum masuk kerja,
aku sudah meyediakan stock dan aku agak tenang. Namun, siapa sangka,,
memang rejeki bukanlah apa yang ada di tangan kita, melainkan apa yang sudah ada
diperut kita. Sebulan sebelum masuk kerja, sekitar 30an kantong asi basi karena
kulkasku rusak tidak dingin. Aku, lemes...
Sebulan
masuk kerja, dan tidak ada stock sama sekali.
Sedangkan Ken kuat sekali
menyusu.
Mulai
saat itu, setiap ada kesempatan pumping, aku akan pumping, tidak perlu menunda.
30 ml, 40 ml, 60 ml sekali pumping.. dan sekarang stabil 120-150ml. Aku tidak
sadar, hingga kulkas freezerku penuh, aku titip ke kulkas rumah mama pun penuh.
Aku dan suami memutuskan untuk sewa freezer. Saat mulai masuk kerja, stock asiku sudah
mencapai 120an kantong ukuran 100-160ml.
ASIku
terus mengalir, ASI yang aku pikir hanya rejeki Ken,,
hingga
suatu saat, Aku tergerak saat aku melihat salah satu tweet tentang bayi yang
membutuhkan asi, sedangkan ibunya sakit Eklampsia dan tidak bisa menyusui.
Dengan
seijin suamiku dan dorongan dari mamaku. Aku menghubunginya, aku mendonorkan ASIku untuknya dan saat itulah ia
menjadi Adik sepersusuan Ken yang Pertama, adik Thariq Addin. Berusia lebih muda 1 bulan dari Ken.
Saat
masuk kerja, intensitas pumpingku lebih sering karena aku tidak menyusui Ken
secara langsung kecuali malam hari. 3-4x
pumping dikantor. Aku bisa bawa 8-9 kantong ukuran 100-150ml.. rata-rata 1
liter, dirumah pun aku bisa pumping sambil menyusui ken, 3-4 kali dan dapat
sekitar 500-600ml. Hasil pumping dirumahlah yang biasanya aku kasih Ken untuk
keesokan harinya. Sehingga hasil pumping dikantor, memenuhi semua isi frezer
sewaan dan hampir tidak muat. 277kantong ASI 100-150ml.
Aku
kembali mencari bayi laki-laki yang membutuhkan ASI diberbagai media social.
namun,, mencari bayi yang mau didonorkan tidaklah semudah itu.. akhirnya dengan
segala konsekuensi, aku yang mengiklankan bahwa aku ingin memberikan sebagian
ASIku.
Banyak
sekali (Cuma 5 padahal :P ) yang menghubungiku yang membutuhkan ASI, namun
setelah mendengar alasan masing-masing mengapa perlu ASI ku dan memang sudah
rejeki masing-masing Bayi, akhirnya bertambahlah 2 Saudara sepersusuan Ken..
Adik
Abimata, lahir pada 24 januari 2015. sekeluarga datang kerumahku
beserta adik bayi. Ya Allah senang rasanya. Adik abim mengalami penurunan berat
badan setelah sakit kuning lebih dari 2 minggu pertamanya, dan ASI mamanya
belum mencukupi untuk masa-masa perkembangan awal kehidupan abim.
lalu, kaka skylar. Setelah 2 saudara sepersusuan Ken lebih muda dari Ken. Kini
Ken punya Skylar sebagai kaka sepersusuannya. Sky berusia lebih tua 1 bulan dari Ken, yakni lahir pada 6 Oktober 2014. Dengan alasan tertentu, Ibu Sky tidak
bisa menyusui secara langsung.
Ada
perasaan bahagia merayap saat aku dapat berbagi kepada bayi mungil yang
membutuhkan, aku sangat mengerti bagaimana perasaan ibunya yang pasti ingin
sekali menyusui anaknya namun tidak bisa. Ada sebagian rejeki orang lain, dari rejeki yang Allah berikan melalui kita. Sungguh, nikmat Allah tidak pernah
berhenti mengaliri Aku dan Keluargaku. Alhamdulillahirabilalamin..
**
Ken, Anakku sayang, mama menulis ini untuk menjaga mahrammu kelak. Semoga Allah
selalu melindungi dan memberkahimu, nak,,
Dengan
penuh cinta dan kasih sayang.
Mama
& Papa


0 comments:
Post a Comment