Aku, bertaruh
nyawa saat melahirkan putri kecilku..
Aku
masih ingat rasanya saat nafasku sudah diujung dan aku tak sanggup lagi
bernafas. Aku masih ingat rasanya saat aku berada dalam titik, memasrahkan
hidup dan matiku kepadaNya. Di ruang operasi itu, aku bertaruh nyawa.
Hari
itu, pertama kali aku setakut itu untuk mati, setakut itu untuk anak-anakku
akan menjadi piatu, setakut itu tidak bisa lagi memeluk suamiku, dan setakut
itu aku membayangkan tangisan mamaku meratapi kematianku kelak.
Mana
pernah aku membayangkan hal itu, hingga masuk ke ruang operasi pun, aku masih
cengar-cengir ke mama dan suamiku. Kesombonganku diuji olehNya, dan aku telak. Aku
takut.
Anakku, lahir saat belum waktunya.
Hari
itu, 28 Oktober 2016, usia kandunganku tepat 37 minggu. Bekas operasi Caesar sebelumnya
yang sudah menipis, menjadi alasan untukku meng-ok kan tawaran dokter melakukan
operasi Caesar lagi. Rumah sakit yang sama. Dokter yang sama.
Gadis
kecilku terlahir sehat, 3000 Gram,
dengan panjang 50cm. Dan aku super bahagia. Kehadirannya melengkapi kebahagiaan
kami. Aku bisa melihat raut bahagia suamiku saat menggendongnya.
“Seira.. welcome to
the world, sayang”
Ya.. kami
menamainya SEIRA – Anak yang baik (suci & baik, -jepang-).
Doa dalam
nama, yang bisa diaamiinkan setiap kami memanggil namanya.


0 comments:
Post a Comment