aku tau aku payah, aku mengeluh untuk hal yg seharusnya aku
syukuri.
baru saja, dan masih terngiang jelas ditelingaku.. percakapan pria
paruh baya dengan rekannya, bercerita bagaimana excitednya dia mengenai tawaran
pekerjaan dengan gaji setengah dari pendapatanku.
aku juga ingat, bagaimana senangnya kerabatku mengenai bonus
pekerjaan yang aku pikir tidak sebanding dengan lembur tiap malamnya.
dan lagi kebahagiaan bapak tua penjual minum, untuk kembalian yg
tak perlu dikembalikan itu..
aku payah, mama..
untuk pendapatanku yang secukup ini.
aku bahkan tidak perlu seperti abang koran yang aku lihat kemarin
malam, mendekap erat barang dagangan agar tidak basah terguyur hujan. ataupun
mamang-mamang yang bermandi peluh dan matahari untuk menawarkan gelas
minum di perempatan jalan.
akuuuuu,,
hanya
perlu duduk manis di ruangan ber-Ac menganalisa, rapat ataupun wawancara, dan
sesekali lembur di otoritas terbaik di negeri ini.
Pak,
saya nih bukannya ga bersyukur. Ada yg salah dalam sistem dan ini merugikan.
meski bossku mengiyakan dan mengerti pendapatku, nyatanya aku
memang tidak bersyukur.. keluhanku adalah tanda tidak bersyukur. aku
hanya mencari pembenaran pendukung keluhanku, dan tidak sabar untuk menikmati proses.
Ternyata,, selama ini aku lelah, bukan dengan keadaan. tapi akan persepsiku..
ahhh,, mungkin, ini saat yang tepat melepas jauh sifat
burukku..yang selalu menengok keatas shingga membuat hati dan pikiran pegal. :)
maafkan
aku, jiwa.


0 comments:
Post a Comment