Be gratefull

“ga usah di kasih tips kali, dia udah digaji”
“halah, itu kemahalan. Jangan mau beli disitu, beda 5ribu tau sama yg di mall”
“kembaliannya mana, kurang seribu nih”
“bonusnya kurang kayanya ya, jadi ga semangat”
“ibu itu, meski bonusnya seharga DP Rumah, sebel loh, karena turun dari bonus tahun lalu”


                Muak? Sama. Hehehe.. siapa yang menyangka bahwa kalimat-kalimat tersebut, keluar dari orang-orang yang penghasilannya setara lebih dari 40-100gram emas/bulan (*bahkan ini belum ditambah penghasilan dari pasangannya). Aku pernah tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka begitu detail dalam menghitung haknya. Semakin berinteraksi, aku pun ikut-ikutan menuntut dan menghitung hakku secara detail. Yang akhirnya membuatku menderita. Aku fokus menghitung dan menuntut tanpa lagi melihat betapa banyak nikmat yg aku terima.


                 Suamiku mungkin pernah sama muaknya denganku, saat aku mengeluh dan mengeluh. Hingga aku lelah sendiri, dan akhirnya aku juga muak dengan diriku yg seperti itu.


                  Hingga suatu saat, suamiku sakit, dan anakku demam. Aku tidak bisa apa-apa. Tabungan kami ada, kami sekeluarga bahkan memiliki asuransi kesehatan yang baik. Tapi hatiku tetap tidak tenang, semua yg kumiliki tidak menjamin kesehatan keluargaku.
Apalagi  yg aku keluhkan? Semua ada, dan bukankah ini lebih dari cukup saat mamaku, suamiku, anakku sehat dan menikmati bersyukur bersama atas hal yang ada.


Daaann.. Lagi-lagi, aku diberi kesempatan untuk mendengar, melihat dan mengetahui hal-hal yang membuatku berpikir dan bersyukur.

Siang itu, aku tidak sengaja mendengar percapakan bapak-bapak muda.
Salah seorang diantaranya baru memiliki seorang bayi, mungkin 2-3 bulan.. menceritakan mengenai ASI istrinya yang kurang mencukupi, dan ketidakmampuannya membeli susu formula. Bapak itu bercerita, ia mengakalinya dengan memberikan anaknya air putih / botol kosong, hanya agar anaknya tidak menangis. (*air putih tidak dianjurkan untuk bayi < 6 bulan).

Ia bercerita sambil tertawa, tidak dengan sedih. Walaupun aku tau itu miris.
Istrinya seorang ibu rumah tangga, dan ia seorang kuli bangunan/ pekerja serabutan dengan pendapatan tidak menentu setiap saat.


Aku mendengar, melihat dan mengetahui banyak hal yang memberiku pelajaran hidup,,
  •  Tentang bagaimana bapak tukang sate padang keliling yang tidak laku, pagi ke pasar, siang memasak, sore-dan malam menjajakan dagangan lalu tidak ada 1pun pembeli hari itu.
  • Tentang  bapak tukang koran yang sore itu masih memiliki banyak koran, dan hujan deras mengguyur, ia melindungi koran-korannya meskipun ia kuyup dan menggigil.
Tentang bagaimana bapak tukang sampang, bapak satpam, bapak pedagang tissu, dan bapak-ibu lain yang aku dengar, lihat dan ketahui cerita-ceritanya.


Semakin mengetahui, semakin merasa kecil dan terdiam.
Kita, berada di keadaan sekarang, bukan hanya karena usaha dan doa. Melainkan juga karena Tuhan, memberikan kita kesempatan.

Mereka mungkin telah berusaha dan berdoa, namun tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kita, kesempatan orang tua yang mendidik, kesempatan mendapatkan pendidikan, kesempatan mendapatkan peluang pekerjaan, maupun kesempatan berusaha.



Disaat aku telah banyak mendapatkan kesempatan, saat itu pula aku semakin malu, malu untuk tidak melakukan yg terbaik. Malu untuk tidak bersyukur. Malu untuk terlalu penuntut.



Kenikmatan itu seperti kehausan, yang memintanya seteguk demi seteguk, lalu tidak pernah cukup.



2 comments:

dekri said...

Super sekali Put :)

Dalam menjalani kehidupan, kita memang harus selalu bersyukur atas apa yang telah Allah SWT titipkan kepada kita.
Aku sendiri juga terkadang lengah pada godaan rasa ingin memiliki hal-hal yang belum (atau mungkin tidak) dititipkan kepadaku, hanya berujung pada ketidaktenangan.

Begitu ku tersadar bahwa hidup adalah lebih besar ketika bersyukur, maka sebenarnya hati yang bersyukur itu membuat perasaan menjadi kaya, tanpa harus memiliki banyak materi (bukan berarti gak boleh punya banyak materi).

Sehat dan sukses selalu yaa Put :) salam buat keluarga :)

*udah lama gak nge-blog, apalagi ngasih comment :D

Me..in words said...

jiahahahaa.. *ini pencitraan tau :D :P


terimakasih uda.. commentnya, biasanya blog ini kering kerontang, hahaha, aku pikir tidak ada yg baca.


aku setuju juga kata-kata uda, bersyukur membuat perasaan menjadi kaya, dan dengan keluarga, aku sangat menikmati kekayaan itu. menikah, mempunyai anak tuh sangat merubah banyak hal di hidupku, menuju yang lebih baik tentunya.. dan salah satunya dengan arti bersyukur tersebut.


hehee,, salam juga buat ka vita dan melani.. adiknya kecil udah lahiran?

Post a Comment