Ayah


9 Juli 2013
09.00 am
Selasa itu, entah mengapa aku malas sekali untuk masuk kantor.
Aku izin ke atasanku, bahwa sepertinya aku tidak akan masuk kerja hari ini, pilek kataku. Sakit pilek biasa,  yang begitu-begitu saja sebenarnya.

07.15 am
Sebelumnya, karena hari itu aku sedang berhalangan shalat, aku memutuskan untuk bangun agak telat, sekitar pukul 7. Bangun tidur, keluar kamar.. dan disambut senyum hangat ayah,
   “anak ayah, mau sarapan apa hari ini?”
“aku lagi mau nasi uduk, ayah”
“siappp booosss”
Ayahku, sepertinya sudah diberitahu mama tentang curhatku semalam, jika pagi ini aku tidak masuk kantor. Setiap pagi, jika mama belum memasak, ayah memang selalu menanyakan mama dan aku mau makan apa..
Dan memang, terkadang ayah memanggilku “boss”, hanya untuk menyemangatiku, dan mendoakanku untuk menjadi boss beneran, karena ayah tau, selama 6 bulan terakhir ini aku selalu mengeluh atas manajemen dan kerjaanku.

11.30 am
“wah, anak ayah enak ya. masuk sesuka hati,bolos sesuka hati. Enak bener, bu menteri nih.. hahaha”
“iyalah, aku kan nurun dari ayah. Ayah dulu juga sering bolos, hehehe..”
“hahahhaa,, kok ayah terus”
Aku bercanda dengan ayah sambil memilih CD music jazz yang akan aku putar di halaman belakang sebagai teman menemani mama memberesi baju. Saat itu, ayah dibantu om-ku sedang mengecat kamar.. kebiasan rutin menjelang puasa, mengganti warna hijau alpukat menjadi warna pink-purple. Setelah ketemu CD nya, aku langsung menemani mama di halaman belakang sambil membaca buku..dan ayah melanjutkan pekerjaannya.

12.15 pm
Aku bercanda-canda dihalaman belakang dengan mamaku, berbincang mengenai apapun. Mulai dari rencana haji mama-ayah, ziarah ke makan kakak perempuanku sore itu, masa depanku, liburan yang akan datang, dan hal lainnya..
Dan saat itu, ayah menghampiri kami, untuk memanggil mama..



“ayah, sudah azan.. mau shalat dulu apa makan dulu?”

“tolong kasih ayah minyak angin dulu bu, kok badan ayah dingin. Sekalian pijetin ya”


Mama dan ayah masuk ke dalam rumah, dan tidak berapa lama mama kembali ke dapur (dekat dengan halaman belakang) untuk mengambil makan, dan menyuruhku untuk makan juga. Aku melanjutkan baca, dan kemudian.. aku mendengar mamaku berteriak.
12.30 pm
Aku berlari masuk rumah, mendapati ayahku telentang dengan mata terpejam dan tangan bersedekap seperti orang shalat di kasur di kamar massku, dengan  mama sedang menangis disampingnya. Omku, berlarian memanggil tetangga.. aku memeluk ayahku, menangisi meraung. Aku melihat ayahku mengucap istigfar, mengambil nafas 2x, dengan jeda 5 detik,, dan pada nafas ketiga, tarikan nafas yang paling panjang dan terakhir, aku melihat ayahku terkulai kepalanya. Aku meraung tidak karuan, sesenggukan dengan muka penuh minyak angin, akibat memeluk badan ayahku. Lalu, aku memeluk mama.. tidak kuat rasanya melihat mama terkulai lemas. Ayahku telah tiada.. Aku menelpon mas-masku,, 3 jagoanku setelah ayah.
*Aku diceritakan mama, ternyata saat ayah minta dipijitkan, sebelumnya ayah rebahan di karpet di ruang keluarga, dan saat mama mengambil makan, ayah pindah ke kamar massku (kamar terdekat dengan ruang keluarga) telentang dan bersedekap, mungkin, ayah sudah tau, akan pergi.
02.00 pm
Kami sempat membawa ayah ke rumah sakit untuk memastikan, tidak lama setelah  ayah menghembuskan nafas terakhir. Mass bayu yang kerja di depok dan mass aris yang sedang dinas di depok, datang saat di rumah sakit. Sedangkan mass sigit, baru datang saat ayah sudah kembali ke rumah. Kami segera mengurus jenazah ayah, sanak saudara, tetangga, rekan dan kerabat datang membacakan yassin, memandikan, mengafani, menshalati, dan mengubur ayah secepat mungkin, untuk memenuhi hak ayah yang terakhir.

03.30 pm
Menjelang azan dzuhur aku masih bercanda dengan ayah, siapa yang menyangka setelah azan ashar, aku  duduk disamping pusara/ makam ayah.
Aku dan mamaku menyaksikan sendiri, bagaimana cepatnya ayah pergi. Dari sehatnya ayah, ayah meminta dipijat, sakratul maut hanya kami berdua yang menyaksikan, dibawa kerumah sakit, mengajikan yassin buat ayah, memandikan, mengkafani,meski tidak ikut menshalati, dan bada azhar itu aku menabur bunga di makam ayah.
Aku sangat bersyukur , aku diberi kesempatan untuk berada di samping ayahku, dan menyaksikan semuanya. Jika aku, masuk kerja hari itu, aku mungkin akan menyesal yang tiada terkira,, subhanallah, Allah telah mengatur semuanya.

---0O0---

Jika Allah telah berkehendak, tiada yang tidak mungkin. Pergi dengan secepat itu. Tanpa tanda-tanda, bayangan atau apapun yang berpikir bahwa ayahku akan secepat ini pergi.

Banyak sekali yang datang mendoakan ayah, bahkan orang-orang yang tidak tau rumahku, teman, sahabat semua datang silih berganti, orang-orang yang tidak dekat, Alhamdulillah wasyukurillah. Aku berterimakasih untuk semua keluarga besar, tetangga, sahabat, kerabat dan rekan kantor, atas takziah dan doa untuk ayahanda kami tercinta, Alm. Bapak Djumadi Hadi Mulyono bin Wiryo soemito, semoga Allah membalas kebaikan kalian. 
Tiada tempat kembali terindah selain disisiNya. Segala doa terbaik untuk ayahanda kami tercinta. Aamiin.