Kencan bertiga itu ternyata menyenangkan!


              Ini super late post banget, hahaha.. tapi biarlah, aku baru suka menulis kembali akhir-akhir ini, setelah berjibaku dengan tugas essay bisnis internasional, skripsi dan revisian, dan tugas-tugas lainnya.

Pertengahan Mei 2016 lalu, Aku, Mass Fajar dan Ken liburan ke singapore. Ini pengalaman pertama Ken ke luar negeri, dan ini juga pengalaman pertamaku dan mass fajar liburan BERTIGA dengan Ken. Hahaha..        biasanya, kami selalu liburan BERDUA SAJA, atau sekeluarga besar. Bertiga dengan ken, hanya sebatas ke Mall ataupun Pameran. Jadi,, liburan 4 days 3 night ini membutuhkan lumayan banyak persiapannya, terlebih lagi usia ken yang saat itu baru 1,5 tahun dan aku sedang hamil 3 bulan. hahahahah






                Awalnya, liburan ini direncanakan untuk ber-empat. Aku, mass Fajar, Ken dan Mamaku. Kami sudah memesan tiket PP dalam satu kode booking. Liburan kali ini pun sebenarnya ingin agar passpor mama ga bersih (Alias ada capnya) pas berangkat haji nanti. Tapi, ternyata,, pada awal bulan Mei 2016, passpor mama harus sudah dikumpulkan untuk mengurus visa haji tahun ini. Karena tau mama ga jadi berangkat, kami sudah tidak excited untuk liburan. Baru seminggu sebelum berangkat, mass fajar memutuskan bahwa kita tetap liburan saja.

Aku dan mass fajar yang sudah beberapa kali ke Singapore pun, juga sudah tidak ada ide tempat yang kami penasaran untuk kunjungi, jadi liburan kali ini kami benar-benar akan santai, menyesuaikan jam tidurnya Ken, dan ke tempat-tempat hiburan untuk Ken.

Kami menginap di Clarke Quay, dan penginapan kami persis 100 m di depan MRT station. Barang bawaan kami ringkas sebisa mungkin, Kami membawa 1 luggage, dan 1 stroller pockit. Biasanya mass fajar yang membawa koper dan stroller, sedangkan aku menggendong ken (dengan tetap, kondisi hamil muda).  Baru ditempat-tempat tertentu, ken duduk di stroller.

Dalam 3 hari waktu efektif, kami berangkat dari hotel jam 8 – 08.30 pagi (nungguin pup ken yang selalu teratur setiap paginya hahaha), ke tempat wisata, lalu jam 12 balik ke hotel. Kami istirahat, Ken tidur. Jam 14.30 jalan lagi ke tempat wisata. Balik lagi ke hotel jam 18.30. kami ke sentosa island, pantai siloso, singapore zoo, bugis, chinatown, dll.  di hari pulang, kami menghabiskan setengah hari di changi. Hahaha

Liburan bertiga ternyata menyenangkan, aku menikmati waktu-waktuku dengan orang yang sangat aku cintai. Karena janjiku dengan mama belum aku tepati, maka,, mei 2017 aku sudah dapat tiket (dan alhamdulillah,, dapat tiket gratis) ke singapore lagi. Tapi kali ini pasti akan lebih seru, karena InsyaAllah.. liburan kali ini lebih rame, ada kami, mamaku, dan tentu saja,, (dengan kehendak-Nya) ada adik cantiknya Ken. Aamiin..




                Duhhh,, aku jadi kangen liburan.. 

Masa lalu yang [sengaja] ditinggal

Aku pernah dekat dengan beberapa orang, pernah menyukai seseorang yang aku pikir saat itu begitu dalam [dan tentu saja, aku salah], pernah memiliki kenangan dan mempunyai masa lalu.


Aku pikir, begitu juga dengan suamiku.  [pikiranku saat belum bertemu dengan mass fajar]

Namun, ternyata aku salah.. Mass Fajar memang pernah menyukai seseorang [hanya 1 - dan aku mengenalnya], namun ia belum pernah membina hubungan cinta ala abege, cinta monyet ataupun cinta alakadarnya. Dengan kata lain, dia belum pernah pacaran. Dan aku, super bahagia saat mengetahuinya.



Aku tidak menutupi bahwa aku pernah membina hubungan ala kadarnya dengan beberapa orang, namun mass fajar tidak begitu tertarik dengan hubungan masa laluku. Jadi, kami jarang sekali membicarakan tentang hal ini. Dia tidak pernah menanyakan, siapa saja yang pernah dekat, kapan, kenapa dan bagaimana. Ia tidak pernah bertanya juga tentang yang menyangkut hal-hal seperti itu.

Saat aku bercerita lebih dulu, tentang orang-orang yang pernah dekat, dia akan bilang bahwa dia tidak suka membahas masa lalu, dia lebih senang membicarakan saat sekarang dan masa depan yang akan kita lalui bersama.



Dia pernah bilang bahwa dia kadang tidak sengaja bertemu dengan orang yang pernah dekat denganku di kantornya.. [beberapa orang yang pernah dekat denganku, sekantor dengan suamiku, dan hanya beda lantai]. Namun dia tidak akan mengungkit, menggoda atau tertarik membicarakan lebih jauh.


Aku pernah meminta izin untuk bertemu orang yang pernah dekat denganku, dan dia mengizinkan.. “kenapa harus cemburu, sayang? Aku percaya kamu kok.”

Antara senang dan sedih,,
ah,, mungkin istrimu tidak secantik itu untuk dicemburui ya sayang? :P :D

I'm Pregnant [again]



Alhamdulillah, aku melewati hari-hari pernikahanku selama 2,5 tahun ini dengan begitu menyenangkan.. 

 
aku jatuh cinta setiap hari dengannya, merasakan perasaan yang sama saat pertama kali kami bertemu, dan hari-hari seperti kami sedang honeymoon.

Kami selalu meluangkan waktu untuk kencan setiap minggunya, pacaran halal setelah menikah, dan aku tidak perlu risih pandangan orang saat kami bergenggaman di tempat umum.

Kami selalu meluangkan waktu untuk menikmati film-film terbaru, datang ke pameran, mencoba tempat makan baru, liburan ke tempat favorit kami dan hal lainnya, berdua saja. 

Hingga saat ini, ia selalu memeluk dan menciumku saat aku pulang, saat aku bangun dan akan tertidur. Menggenggam tanganku saat akan tidur, di tempat umum, di bioskop, dan dimanapun saat kami ingin bergenggaman tangan.

Aku, begitu mencintainya.





Dan sekarang, aku hamil [lagi]..  honeymoon kami entah yang mana. Hahahaa..
*Ken, mommy love you so much. Makanya mommy kasih kamu teman main. Selamat jadi kakak, anak sholih.. #Pregnant #21Weeks

Japan, i'm in love





Celebrating our 2nd wedding anniversary
11 Jan 14 - 11 Jan 16 


#SuperLatePost
#LagiMalasNulis

Be gratefull

“ga usah di kasih tips kali, dia udah digaji”
“halah, itu kemahalan. Jangan mau beli disitu, beda 5ribu tau sama yg di mall”
“kembaliannya mana, kurang seribu nih”
“bonusnya kurang kayanya ya, jadi ga semangat”
“ibu itu, meski bonusnya seharga DP Rumah, sebel loh, karena turun dari bonus tahun lalu”


                Muak? Sama. Hehehe.. siapa yang menyangka bahwa kalimat-kalimat tersebut, keluar dari orang-orang yang penghasilannya setara lebih dari 40-100gram emas/bulan (*bahkan ini belum ditambah penghasilan dari pasangannya). Aku pernah tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka begitu detail dalam menghitung haknya. Semakin berinteraksi, aku pun ikut-ikutan menuntut dan menghitung hakku secara detail. Yang akhirnya membuatku menderita. Aku fokus menghitung dan menuntut tanpa lagi melihat betapa banyak nikmat yg aku terima.


                 Suamiku mungkin pernah sama muaknya denganku, saat aku mengeluh dan mengeluh. Hingga aku lelah sendiri, dan akhirnya aku juga muak dengan diriku yg seperti itu.


                  Hingga suatu saat, suamiku sakit, dan anakku demam. Aku tidak bisa apa-apa. Tabungan kami ada, kami sekeluarga bahkan memiliki asuransi kesehatan yang baik. Tapi hatiku tetap tidak tenang, semua yg kumiliki tidak menjamin kesehatan keluargaku.
Apalagi  yg aku keluhkan? Semua ada, dan bukankah ini lebih dari cukup saat mamaku, suamiku, anakku sehat dan menikmati bersyukur bersama atas hal yang ada.


Daaann.. Lagi-lagi, aku diberi kesempatan untuk mendengar, melihat dan mengetahui hal-hal yang membuatku berpikir dan bersyukur.

Siang itu, aku tidak sengaja mendengar percapakan bapak-bapak muda.
Salah seorang diantaranya baru memiliki seorang bayi, mungkin 2-3 bulan.. menceritakan mengenai ASI istrinya yang kurang mencukupi, dan ketidakmampuannya membeli susu formula. Bapak itu bercerita, ia mengakalinya dengan memberikan anaknya air putih / botol kosong, hanya agar anaknya tidak menangis. (*air putih tidak dianjurkan untuk bayi < 6 bulan).

Ia bercerita sambil tertawa, tidak dengan sedih. Walaupun aku tau itu miris.
Istrinya seorang ibu rumah tangga, dan ia seorang kuli bangunan/ pekerja serabutan dengan pendapatan tidak menentu setiap saat.


Aku mendengar, melihat dan mengetahui banyak hal yang memberiku pelajaran hidup,,
  •  Tentang bagaimana bapak tukang sate padang keliling yang tidak laku, pagi ke pasar, siang memasak, sore-dan malam menjajakan dagangan lalu tidak ada 1pun pembeli hari itu.
  • Tentang  bapak tukang koran yang sore itu masih memiliki banyak koran, dan hujan deras mengguyur, ia melindungi koran-korannya meskipun ia kuyup dan menggigil.
Tentang bagaimana bapak tukang sampang, bapak satpam, bapak pedagang tissu, dan bapak-ibu lain yang aku dengar, lihat dan ketahui cerita-ceritanya.


Semakin mengetahui, semakin merasa kecil dan terdiam.
Kita, berada di keadaan sekarang, bukan hanya karena usaha dan doa. Melainkan juga karena Tuhan, memberikan kita kesempatan.

Mereka mungkin telah berusaha dan berdoa, namun tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kita, kesempatan orang tua yang mendidik, kesempatan mendapatkan pendidikan, kesempatan mendapatkan peluang pekerjaan, maupun kesempatan berusaha.



Disaat aku telah banyak mendapatkan kesempatan, saat itu pula aku semakin malu, malu untuk tidak melakukan yg terbaik. Malu untuk tidak bersyukur. Malu untuk terlalu penuntut.



Kenikmatan itu seperti kehausan, yang memintanya seteguk demi seteguk, lalu tidak pernah cukup.